JURUS PENGASUHAN TEGA VS TEGAS

JURUS PENGASUHAN TEGA VS TEGAS

JURUS PENGASUHAN TEGA VS TEGAS

By: Ummu Zaahidah
Kita sebagai orang tua sering terjebak dengan pola pengasuhan jadul. Memaki, membentak, marah-marah, jengkel, dongkol, sedih, kecewa, mengumpat, bahkan ada yang lebih parah menyakiti, merupakan jurus orang tua untuk menghentikan kebiasaan perilaku jelek anak. Perasaan itu meluap-luap muncul dan tak terkendali saat anak tidak nurut dengan perintah kita atau melakukan sebuah larangan yang berlaku dalam sebuah keluarga.
Emosi adalah fitrah yang melekat pada diri seorang insan. Siapapun itu, terlepas dari peran ustadz, pemuka agama, pakar pendidikan atau parenting trainer, wajar atau hal yang lumrah pernah marah ataupun jengkel dan emosian. Namun batasan emosi seperti apakah yang boleh dan sesuai dengan syariat? Marah wajar, justru ketika anak sering dimanja maka akan mematikan potensi kemandiriannya dan ketika dewasa nanti anak tersebut akan tetap bersikap kekanak-kanakan meskipun sudah menjadi orang tua.
Kita kenali apa masalahnya? jangan-jangan  ketika kita banyak menuntut supaya anak disiplin kita sendiri yang tidak konsisten. Jangan-jangan justru emosi kitalah yang bermasalah yang membuat anak bingung dan merasa orang tuanya plin-plan dalam memberikan sebuah aturan. Contoh kecilnya tidak tegas dan bohong. Betapa sering orang tua mengatakan “ya sudah cuma sekarang saja beli coklatnya lain kali jangan” dan ketika anak merengek meminta coklat kembali  orang tua membelikan dan tak sanggup menolaknya karena tidak tega. Padahal beberapa menit sebelumnya mereka melarang anaknya dengan metode ceramah yang panjang dan lebar. Dan kahirnya keluarlah kata-kata: “ Nanti lagi enggak boleh seperti itu lagi, itu nggak baik!”. Nah apa yang terjadi selanjutnya apa yang terjadi besok dan besoknya lagi. Setiap ke warung pasti meminta cokelat dan bukan sekali dua kali. Pada akhirnya anak semakin lihai mengeluarkan jurus rengekannya dengan menagis meraung-raung.
Ketidak percayaan seorang anak justru akan menyulitkan setiap perintah dari orang tua. Biasanya, anak-anak yang tidak patuh kepada orang tua adalah anak-anak yang sering dibohongi oleh orang tua. Bagaimana mungkin akan mempercayai dan mematuhi perintah orang tua sementara perkataan orang tuanya sendiri tidak bisa dipegang. “Nanti uang mama habis kalau kamu jajan terus!” besok dan besoknya hanya bisa ngedumel “dasar nakal minta jajan terus” sambil memberikan sebuah uang recehan. Kenapa tidak diganti dengan referensi ilmiah seperti ini. “boleh jajan tapi seribu sehari saja ya! Kalu banyak jajan tidak baik lhoo! mending uangnya ditabung buat keperluan yang lain.” Atau ganti dengan alasan ilmiah “makan coklat kebanyakan bisa menyebabkan sakit gigi, lain kali jajan yang bermanfaat dan cari jajanan sehat atau buah-buahan bisa membuat gigimu bagus”.
Kuncinya memberikan sebuah batasan peraturan adalah ketegasaan dan konsisten. Jangan pernah ingkar janji dan berbohong kepada anak. Berjanjilah kepada diri sendiri ucapkan dan niatkan dengan kesungguhan hati. “ Insya Allah mulai hari ini saya akan melakukan apa yang saya katakan ketika saya berkata TIDAK saya akan berkata tidak. Ketika saya berkata YA maka saya akan berkata ya. Saya tidak akan BERBOHONG dan INGKAR JANJI kepada anak”.

“Wahai orang yang beriman! Mengapa kamu mengatakan sesuatau yang tidak engaku kerjakan? (Itu) sangat dibenci disisi Allah jika kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan.” QS AL-Shaff (61):2-3
Blogger
Disqus
Pilih Sistem Komentar

No comments

Advertiser