Jurus Pengasuhan: Meminimalisir Prilaku Konsumtif Anak

Jurus Pengasuhan: Meminimalisir Prilaku Konsumtif Anak

Jurus Pengasuhan: Meminimalisir Prilaku Konsumtif Anak

By Ummu Zaahidah
Sering kali kita temui anak-anak yang selalu ramah menyapa para pedagang yang lewat. Bisa jadi karena si anak hobi dengan aneka ragam jajanan  baik itu kue, cilok, es doger  atau pedagang numpang  lewat. Boleh jadi secara kebetulan rumah Ayah dan Bunda dekat jalan atau gang. Atau ketika kita belanja ke warung anak maksa ikut dan  tak tahan melihat snack jajanan beraneka ragam dari mulai permen, coklat, roti dll. Pada akhirnya anak tidak tahan mengendalikan jajan, kebingungan menahan godaan kemudian mengeluarkan jurus rengekan, dan ketika tidak berhasil kemudian jurus pamungkas dengan tangisan meronta.
Jika Bunda punya pengalaman seperti itu tidak usah bingung, karena Bunda tidak sendiri. Saya juga pernah mengalami hal itu. Tentu saja kita para emak merasa tidak nyaman, alih-alih anggaran jatah belanja yang harusnya habis akhir bulan, malah awal bulan sudah menipis. Bagaimana menghadapi karakter anak yang suka silaturahmi dengan warung ataupun senang menyapa tukang jualan lewat? 
Trik yang harus dicoba, sudah saatnya Bunda mempraktikan SOP jajan kepada buah hati. Untuk usia pertama anak 7 tahun ke bawah/pra sekolah terapkan SNACK TIME. Sedangkan anak usia minimal 7 tahun atau sekolah dasar terapkan UANG SAKU.
Anak tak meminta jajan itu baik. Tetapi jika anak ingin jajan itu wajar. Namun jika berlebihan jajanan, kendali ada di orang tua. Selama jajanan itu sehat tak masalah. Tetapi jika anak terus berulang-ulang mengoceh minta jajan, kuncinya adalah TEGAS. SOP akan membatu batasan-batasan yang mungkin menjadi acuan atau referensi para orang tua meminimalisir prilaku konsumtif anak. 
Snack time artinya memberikan kesempatan kepada anak untuk mendapatkan cemilan atau makanan yang ia sukai sepanjang makanan itu baik dan sehat. Sepakati bersama anak  boleh jajan sehari atau dua kali antara jarak pagi atau sore.
Yang harus jadi catatan : “ Bukan jajanan yang harus dibatasi melaikan frekuensi membeli jajanan yang harus di atur dengan jelas” (dikutip dalam buku Penerapan Disiplin Anak, Ihsan Albaihaqi Albukhori)
Berapa pun banyaknya penjual yang lewat rumah, kalau aturannya jelas hanya satu kali. Anak boleh jajan pada pagi atau sore hari, maka tidak perlu ngumpet ketika anak merengek minta jajan karena kebetulan ada tukang jualan lewat. Tinggal ingatkan SOP kembali. 
Jadi intinya fokus pengendalian, bukan jumlah uang melainkan frekuensinya. Tentu saja jumlah uang juga harus diperhatikan tergantung kesepakatan bersama buah hati Bunda. Awalnya akan sulit tetapi jika Bunda konsisten, Insya Allah akan bermanfaat untuk anak Bunda suatu hari nanti. Tentukan tarif jumlah jajan sehari antara berkisar 2000-5000 cukupklah untuk anak pra SD. Boleh juga orang tua menerapkan jajanan dua hari sekali. Hari ini jajan, besok tidak jajan dan disediakan cemilan di rumah. Terkesan tegaan mungkin, tapi sekali lagi saya tegaskan konsisten itu penting tentunya disepakati oleh Ayah, Bunda dan anak. 

Blogger
Disqus
Pilih Sistem Komentar

No comments

Advertiser